Mengenal Lebih Dekat Tren Paris Fashion Week Men’s FW26
Halo, para pencinta mode! Baru-baru ini, mata dunia kembali tertuju pada kota cahaya, Paris, yang baru saja menyelesaikan gelaran busana pria paling bergengsi untuk musim Fall/Winter 2026. Menyimak tren Paris Fashion Week Men’s FW26 bukan sekadar melihat koleksi baju mahal yang melintas di atas panggung, tetapi juga tentang memahami arah estetika global yang akan mendominasi lemari pakaian kita setahun ke depan. Gelaran tahun ini terasa sangat spesial karena membawa narasi tentang pendewasaan desainer muda, drama visual yang luar biasa, hingga momen haru perpisahan dari rumah mode legendaris seperti Hermès. Bagi kamu yang ingin tetap relevan dengan perkembangan gaya dunia namun tetap ingin menyesuaikannya dengan kultur lokal Indonesia, memahami poin-poin utama dari Paris adalah langkah awal yang sangat penting.
1. Pembuktian Desainer di Musim Kedua (Sophomore Shows)
Salah satu sorotan utama dalam tren Paris Fashion Week Men’s FW26 adalah bagaimana para direktur kreatif yang baru menjabat menunjukkan “taring” mereka di koleksi kedua. Dalam industri fashion, koleksi kedua atau sophomore show sering kali dianggap lebih krusial daripada debut. Mengapa? Karena di sinilah desainer harus membuktikan bahwa visi mereka bukan sekadar kejutan sesaat, melainkan fondasi yang kuat bagi identitas brand tersebut.
Di Paris kemarin, kita melihat bagaimana transisi ini dilakukan dengan sangat rapi. Beberapa desainer muda mulai meninggalkan eksperimen yang terlalu liar dan beralih ke koleksi yang lebih “wearable” atau bisa dipakai sehari-hari tanpa kehilangan nilai seni. Statistik menunjukkan bahwa sektor menswear global diproyeksikan akan terus tumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2026. Hal ini mendorong rumah mode untuk menciptakan pakaian yang tidak hanya bagus di foto Instagram, tetapi juga nyaman dan fungsional untuk konsumen nyata.
- Fokus pada Tailoring: Jas dengan potongan longgar namun tetap tegas menjadi primadona.
- Material Premium: Penggunaan kasmir dan wol yang diproses secara berkelanjutan.
- Relevansi Lokal: Di Indonesia, gaya ini mulai diadopsi oleh brand lokal seperti Sean Sheila atau Major Minor yang mengedepankan kualitas konstruksi pakaian di atas sekadar tren logo.
2. Spektakel Visual: Lebih dari Sekadar Runway
Paris Fashion Week musim ini membuktikan bahwa fashion adalah bagian dari industri hiburan yang masif. Beberapa rumah mode besar tidak hanya menyewa gedung tua, tetapi membangun set yang luar biasa kompleks. Ada yang mengubah area panggung menjadi replika pegunungan salju yang megah, hingga instalasi seni digital interaktif yang merespons gerakan model. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menarik perhatian konsumen di era digital, sebuah brand harus mampu menciptakan pengalaman emosional.
Fenomena ini dikenal sebagai high-impact spectacles. Riset dari Fashion United menyebutkan bahwa brand yang melakukan pertunjukan besar dengan elemen cerita yang kuat mendapatkan engagement 40% lebih tinggi di media sosial dibandingkan pertunjukan tradisional. Bagi kita di Indonesia, tren ini memberikan inspirasi bagi penyelenggara acara mode lokal seperti Jakarta Fashion Week untuk terus berinovasi dalam penyajian visual, bukan hanya fokus pada baju, tapi juga atmosfer dan cerita di baliknya.
3. Perpisahan Emosional di Hermès dan Pentingnya Warisan
Momen paling mengharukan dalam gelaran kali ini adalah babak terakhir atau farewell dari direktur kreatif Hermès. Hermès selama ini dikenal sebagai pilar “Quiet Luxury” atau kemewahan yang tenang dan tidak pamer. Dalam koleksi FW26 ini, mereka kembali menekankan bahwa kualitas material adalah segalanya. Perpisahan ini menandai akhir dari sebuah era di mana keanggunan klasik dijunjung tinggi sebelum kemungkinan besar akan digantikan oleh pendekatan yang lebih modern di musim mendatang.
Tren Paris Fashion Week Men’s FW26 lewat Hermès mengajarkan kita bahwa tren boleh berganti, tetapi kualitas tetap abadi. Di pasar Indonesia, tren quiet luxury ini sangat cocok dengan masyarakat perkotaan di Jakarta yang mulai jenuh dengan logo-logo besar (logomania). Orang mulai mencari pakaian yang “berbicara” lewat tekstur dan potongan, bukan lewat tulisan merk di dada.
Penerapan Gaya Klasik di Indonesia:
- Pilihlah warna-warna bumi (earth tones) seperti cokelat tua, krem, dan abu-abu arang.
- Investasi pada satu outerwear berkualitas tinggi yang bisa bertahan hingga 5-10 tahun.
- Padukan dengan aksesori minimalis seperti jam tangan kulit atau sepatu pantofel (loafers) yang bersih.
4. Dominasi Tekstur dan Material Eksperimental
Jika musim-musim sebelumnya kita banyak melihat permainan warna neon, FW26 justru lebih banyak mengeksplorasi tekstur. Bayangkan perpaduan antara kulit yang sangat halus (nappa leather) dengan rajutan kasar yang terlihat tebal namun tetap ringan. Desainer di Paris menunjukkan bahwa pria masa kini tidak takut menggunakan material yang “berani” namun tetap dalam palet warna yang maskulin.
Menariknya, industri fashion global kini tengah beralih ke material yang lebih ramah lingkungan. Menurut laporan Lyst, pencarian untuk “sustainable luxury materials” meningkat drastis sebesar 60% dalam dua tahun terakhir. Di Paris, kita melihat kulit dari jamur atau serat nanas yang diolah sedemikian rupa hingga menyerupai kulit asli. Ini adalah peluang besar bagi Indonesia yang kaya akan serat alam. Desainer lokal bisa mengambil inspirasi dari Paris dengan mengolah kain tenun atau serat abaka menjadi siluet jaket bomber atau parka modern yang sangat “Parisian”.
5. Evolusi Gaya Streetwear Menuju ‘Post-Streetwear’
Banyak pengamat mode bertanya, “Apakah streetwear sudah mati?”. Jawabannya dari Paris FW26 adalah: tidak mati, tapi berevolusi. Kita tidak lagi melihat banyak hoodie grafis yang berlebihan. Sebagai gantinya, muncul gaya yang disebut ‘Post-Streetwear’—di mana elemen jalanan digabungkan dengan teknik jahit yang sangat rapi (tailoring).
Celana kargo yang biasanya terlihat gombrang, kini hadir dengan potongan slim-fit dan material wol yang mewah. Sepatu sneakers pun mulai digantikan oleh sepatu boots dengan sol yang kokoh namun desain bagian atas yang elegan. Tren ini sangat relevan untuk pria Indonesia yang ingin tampil santai tapi tetap ingin terlihat profesional saat meeting di kafe atau bekerja di kantor kreatif.
Cara Mendapatkan Look Post-Streetwear:
- Gunakan celana bahan (trousers) tapi padukan dengan jaket teknis atau windbreaker premium.
- Gunakan kaos polos berkualitas tinggi di dalam jas (blazer) yang tidak terlalu kaku.
- Pilihlah alas kaki yang berada di antara sneakers dan sepatu formal, seperti derby shoes dengan sol karet.
Menyambut Masa Depan Gaya Kamu
Setelah melihat berbagai tren Paris Fashion Week Men’s FW26, satu hal yang bisa kita simpulkan adalah: fashion masa depan bukan lagi tentang siapa yang paling aneh, tapi siapa yang paling bisa menunjukkan identitas diri dengan cara yang paling berkualitas. Pergeseran dari sekadar tontonan menjadi pakaian yang memiliki kedalaman makna dan kualitas material adalah berita bagus bagi kita semua.
Bagi kamu yang ingin mulai memperbarui gaya, jangan terburu-buru membeli semua yang baru. Ambillah satu atau dua elemen dari Paris, misalnya mulai beralih ke warna-warna netral atau mencoba potongan baju yang lebih rileks namun rapi. Jangan lupa untuk tetap mendukung desainer lokal Indonesia yang kini kualitasnya sudah mampu bersaing di panggung internasional. Pada akhirnya, gaya terbaik adalah gaya yang membuatmu merasa percaya diri dan nyaman dengan dirimu sendiri. Selamat bereksperimen dengan gaya barumu di tahun 2026!

