Membicarakan dunia fashion modern yang memiliki jiwa dan kedalaman sejarah, nama Emily Adams Bode dan suaminya, Aaron Aujla, pasti akan muncul sebagai garda terdepan. Pasangan ini bukan sekadar ikon gaya, melainkan kurator kehidupan yang memadukan estetika masa lalu dengan fungsionalitas masa kini. Di rumah mereka yang penuh dengan karakter, Emily dan Aaron hidup dalam semangat keberlimpahan (abundance) yang jauh dari kesan konsumerisme kosong. Mereka mengoleksi, menciptakan, dan bekerja dalam sebuah harmoni yang merayakan cerita di balik setiap objek. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami bagaimana gaya hidup mereka mencerminkan tren fashion global dan bagaimana kita di Indonesia bisa mengambil inspirasi dari filosofi mereka untuk mendukung gerakan fashion lokal yang lebih bermakna.
Siapa di Balik Nama Besar Bode?
Sebelum kita melangkah lebih jauh ke dalam ruang tamu mereka, penting untuk memahami dampak yang dibawa oleh Emily Adams Bode ke industri mode. Emily adalah wanita pertama yang memamerkan koleksinya di Men’s Fashion Week New York, dan sejak saat itu, ia telah mengubah wajah menswear global. Melalui labelnya, BODE, ia menggunakan tekstil antik—mulai dari selimut perca (quilts) abad ke-19, kain sprei vintage, hingga gorden tua—dan mengubahnya menjadi pakaian siap pakai yang mewah.
Sementara itu, Aaron Aujla adalah salah satu pendiri Green River Project LLC, sebuah firma desain interior dan furnitur yang dikenal dengan pendekatan materialnya yang jujur dan mentah. Kolaborasi antara keduanya menciptakan ekosistem kreatif di mana fashion dan interior saling bersinggungan. Mereka membuktikan bahwa apa yang kita kenakan dan bagaimana kita tinggal adalah dua sisi dari koin yang sama: ekspresi diri yang mendalam.
Semangat Keberlimpahan dalam Koleksi dan Kreasi
Dalam snippet aslinya, disebutkan bahwa mereka hidup dalam “spirit of abundance” atau semangat keberlimpahan. Bagi Emily dan Aaron, keberlimpahan bukanlah tentang memiliki banyak barang baru yang mahal, melainkan tentang menghargai kelimpahan cerita, sejarah, dan kerajinan tangan yang sudah ada di sekitar kita. Di rumah mereka, Anda tidak akan menemukan furnitur minimalis yang dingin. Sebaliknya, setiap sudut diisi dengan:
- Barang-barang temuan dari pasar loak di seluruh dunia.
- Tekstil tradisional yang diwariskan turun-temurun.
- Furnitur kayu custom yang dirancang untuk menua dengan indah.
- Karya seni dari teman-teman seniman terdekat mereka.
Filosofi ini sangat relevan dengan pergeseran budaya saat ini di mana orang-orang mulai jenuh dengan produksi massal yang seragam. Keberlimpahan di sini berarti memiliki koneksi emosional dengan benda-benda di sekitar kita.
Statistik Industri: Mengapa “Sentimental Fashion” Sedang Naik Daun?
Apa yang dilakukan oleh Emily Bode bukan sekadar hobi estetika, melainkan respons terhadap tuntutan pasar global. Industri fashion dunia sedang mengalami transformasi besar menuju keberlanjutan. Berikut adalah beberapa statistik dan tren yang mendukung fenomena ini:
- Menurut laporan dari ThredUp, pasar pakaian bekas (resale) global diprediksi akan tumbuh tiga kali lebih cepat daripada pasar pakaian baru secara keseluruhan hingga tahun 2027.
- Survei menunjukkan bahwa 62% konsumen dari generasi Z dan Milenial lebih memilih membeli dari merek-merek yang dianggap berkelanjutan dan memiliki misi sosial yang jelas.
- Permintaan untuk desain “bespoke” atau kustom meningkat sebesar 15% setiap tahunnya, karena konsumen mencari keunikan yang tidak bisa diberikan oleh fast fashion.
Emily Adams Bode telah memposisikan dirinya di pusat tren ini dengan memberikan nilai baru pada material yang sebelumnya dianggap sampah. Ini adalah ekonomi sirkular yang dijalankan dengan rasa cinta yang tinggi terhadap seni.
Implementasi Gaya “Bode” pada Fashion Lokal Indonesia
Indonesia memiliki modal yang luar biasa besar untuk mengadopsi semangat yang dibawa oleh Emily dan Aaron. Kekayaan tekstil tradisional kita—mulai dari Batik, Tenun, hingga Ulos—adalah bentuk “abundance” yang sesungguhnya. Bagaimana kita bisa menerapkannya?
1. Mengapresiasi Wastra sebagai Daily Wear
Jika Emily menggunakan selimut antik Amerika, desainer lokal Indonesia seperti Sukkhacitta atau Sejauh Mata Memandang telah mulai menggunakan pewarna alami dan teknik tenun tradisional untuk menciptakan pakaian modern. Kita bisa mulai dengan mengoleksi kain-kain tua milik nenek atau ibu kita dan menjadikannya bagian dari lemari pakaian harian kita, bukan hanya untuk acara formal.
2. Konsep Upcycling dalam Desain Lokal
Banyak brand lokal di Jakarta dan Bandung kini mulai bereksperimen dengan teknik patchwork atau perca, mirip dengan gaya khas BODE. Menggabungkan sisa-sisa kain batik menjadi jaket bomber atau celana santai adalah cara hebat untuk mengurangi limbah tekstil sekaligus tampil sangat stylish dan unik.
3. Mendekorasi dengan Cerita Nusantara
Seperti Aaron Aujla yang menggunakan material lokal untuk furniturnya, kita bisa mengisi rumah kita dengan kerajinan tangan lokal. Kursi jengki tua yang dipoles ulang atau penggunaan tikar pandan sebagai aksen dinding memberikan karakter yang jauh lebih kuat daripada furnitur fabrikasi massal yang banyak beredar di pasaran.
Membangun “Ever-Expanding Family” Melalui Komunitas
Keluarga bagi Emily dan Aaron juga berarti komunitas kreatif mereka. Di Indonesia, semangat gotong royong dalam dunia kreatif sangat terasa. Banyak kolaborasi antara desainer fashion dengan pengrajin di desa-desa terpencil. Ini adalah bentuk ekspansi keluarga yang produktif. Dengan mendukung fashion lokal, kita sebenarnya sedang berinvestasi pada keberlangsungan hidup para pengrajin dan pelestarian budaya kita sendiri.
Tips Menata Rumah dan Gaya Hidup ala Emily Adams Bode
Tertarik untuk membawa sedikit nuansa “Bode” ke dalam hidup Anda? Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Anda lakukan:
- Jangan Takut pada Pola: Campurkan berbagai pola tekstil di rumah Anda. Selimut tenun di atas sofa kulit atau bantal batik di kursi kayu dapat menciptakan kehangatan instan.
- Koleksi dengan Narasi: Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah barang ini punya cerita?”. Utamakan membeli barang dari seniman lokal atau pasar barang antik.
- Rawat dan Perbaiki: Alih-alih membuang baju yang sobek, cobalah teknik sulam tangan atau tambalan dekoratif. Di Jepang ini dikenal sebagai Sashiko, dan Emily sering menggunakannya dalam desainnya.
- Personalisasi Ruang Kerja: Buatlah ruang kerja Anda senyaman mungkin dengan meletakkan benda-benda yang memicu inspirasi, seperti foto keluarga lama atau sketsa tangan.
Sentuhan Akhir: Merayakan Keaslian dalam Keseharian
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Emily Adams Bode dan Aaron Aujla bukanlah tentang seberapa mahal barang yang mereka miliki, tetapi seberapa besar mereka menghargai proses kreatif dan sejarah di baliknya. Hidup di tengah “keberlimpahan” berarti kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki karena setiap benda tersebut memberikan makna. Bagi industri fashion Indonesia, ini adalah pengingat bahwa masa depan mode tidak selalu tentang teknologi canggih, melainkan tentang kembali ke akar, menghargai tangan-tangan yang menenun, dan membangun rumah yang penuh dengan cinta serta cerita yang terus berkembang.

