Dunia fashion sedang mengalami pergeseran paradigma yang sangat menarik untuk kita amati bersama. Baru-baru ini, brand raksasa asal Amerika Serikat, Gap, membuat langkah mengejutkan dengan menunjuk seorang eksekutif dari Paramount untuk menduduki posisi strategis. Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi para pelaku industri: apakah Chief Entertainment Officer dalam industri fashion akan menjadi standar baru di masa depan? Kita tidak lagi hanya berbicara tentang kualitas jahitan atau bahan kain, melainkan tentang bagaimana sebuah brand mampu menyajikan hiburan yang mengikat emosi konsumennya. Istilah ‘fashiontainment’ kini bukan lagi sekadar tren lewat, melainkan sebuah strategi bertahan hidup di tengah gempuran konten digital yang tiada habisnya.
Fenomena Baru: Ketika Fashion dan Hiburan Menjadi Satu
Dulu, batasan antara industri hiburan dan industri fashion sangatlah jelas. Fashion berada di panggung runway dan toko ritel, sementara hiburan berada di layar bioskop atau televisi. Namun, sekarang batasan itu telah runtuh. Konsumen masa kini, terutama dari kalangan Gen Z dan Milenial, tidak lagi hanya mencari produk; mereka mencari pengalaman. Mereka ingin merasa terhibur, terinspirasi, dan menjadi bagian dari sebuah cerita besar yang dibangun oleh brand tersebut.
Konsep ‘fashiontainment’ menggabungkan estetika desain dengan narasi hiburan yang kuat. Bayangkan sebuah kampanye iklan yang terasa seperti film pendek berkualitas tinggi, atau sebuah peragaan busana yang lebih mirip konser musik megah daripada sekadar model berjalan bolak-balik. Inilah mengapa peran seorang Chief Entertainment Officer (CEO) menjadi sangat krusial. Tugas mereka bukan lagi mengurusi logistik produksi pakaian, melainkan mengkurasi konten, menjalin kemitraan strategis dengan talenta kreatif, dan memastikan suara brand terdengar di tengah hiruk-pikuk media sosial.
Kisah di Balik Keputusan Gap: Mengapa Paramount?
Langkah Gap menunjuk seorang pemimpin dari latar belakang industri film (Paramount) adalah sebuah pernyataan yang berani. Hal ini menunjukkan bahwa Gap sadar betul bahwa kompetitor mereka bukan lagi sekadar sesama brand pakaian, melainkan platform streaming seperti Netflix, Disney+, hingga kreator konten di TikTok. Jika sebuah brand tidak bisa semenarik tontonan favorit audiensnya, maka brand tersebut akan mudah dilupakan.
Kebutuhan Akan Cerita (Storytelling) yang Kuat
Seorang ahli hiburan membawa perspektif yang berbeda ke meja manajemen fashion. Mereka memahami struktur narasi, pengembangan karakter (dalam hal ini persona brand), dan bagaimana membangun antisipasi. Di Gap, peran ini diharapkan mampu menghidupkan kembali identitas brand yang sempat dianggap ‘tua’ dengan cara menyuntikkan elemen budaya pop yang relevan secara konsisten. Mereka tidak lagi hanya menjual hoodie, tapi menjual gaya hidup yang terintegrasi dengan musik, film, dan tren viral.
Statistik Industri: Mengapa Visual dan Hiburan Adalah Kunci
Data menunjukkan bahwa strategi berbasis konten hiburan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap angka penjualan dan loyalitas pelanggan. Berikut adalah beberapa poin penting dari riset industri global:
- Keterlibatan Video: Postingan media sosial berupa video yang menghibur memiliki tingkat keterlibatan (engagement rate) 1200% lebih tinggi dibandingkan teks dan gambar statis digabungkan.
- Keputusan Pembelian: Sekitar 64% konsumen menyatakan bahwa menonton video pemasaran yang menarik di platform sosial mempengaruhi keputusan mereka untuk membeli produk fashion.
- Pertumbuhan Social Commerce: Diperkirakan pasar social commerce (yang sangat mengandalkan konten hiburan) akan tumbuh tiga kali lebih cepat dibandingkan e-commerce tradisional hingga tahun 2025.
- Loyalitas Brand: Konsumen cenderung 70% lebih setia kepada brand yang menyediakan konten edukatif atau menghibur secara cuma-cuma tanpa selalu memaksakan penjualan (soft selling).
Implementasi di Indonesia: Dari Erigo hingga Live Streaming
Tren ini sebenarnya sudah mulai mendarat dengan mulus di tanah air. Brand-brand lokal Indonesia telah lama menyadari bahwa untuk mencuri perhatian di pasar lokal yang sangat kompetitif, mereka harus menjadi ‘pembuat konten’ sebelum menjadi ‘penjual baju’. Kita bisa melihat bagaimana brand lokal tidak lagi hanya mengandalkan katalog foto produk yang kaku di website mereka.
Kekuatan Komunitas dan Konten Viral
Ambil contoh Erigo yang berhasil membawa nuansa ‘fashiontainment’ hingga ke kancah internasional di New York Fashion Week. Mereka tidak hanya memamerkan pakaian, tetapi membangun narasi perjalanan, kolaborasi dengan influencer papan atas, dan menciptakan momen yang ‘Instagrammable’. Ini adalah bentuk hiburan yang membuat audiens merasa bangga dan ingin terlibat langsung dengan brand tersebut.
Live Shopping: Panggung Teater Baru bagi Brand Lokal
Fenomena live streaming di platform seperti TikTok Shop atau Shopee Live adalah bentuk nyata dari strategi Chief Entertainment Officer dalam industri fashion di tingkat lokal. Para host live streaming kini berfungsi sebagai entertainer. Mereka harus bisa melucu, bernyanyi, memberikan tips fashion, sekaligus berjualan. Inilah fashiontainment dalam bentuknya yang paling demokratis di mana interaksi real-time menjadi kunci utamanya. Brand lokal yang sukses biasanya memiliki tim kreatif yang khusus memikirkan skenario live streaming agar tidak membosankan.
Menakar Kebutuhan: Apakah Brand Anda Perlu Chief Entertainment Officer?
Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah setiap brand fashion, termasuk yang berskala kecil atau menengah, butuh posisi formal CEO ini? Jawabannya tergantung pada target audiens dan visi jangka panjang Anda. Namun, esensi dari peran tersebut—yakni memprioritaskan hiburan dalam pemasaran—adalah sebuah keharusan.
- Jika audiens Anda Gen Z: Ya, Anda sangat butuh sentuhan hiburan. Mereka sangat skeptis terhadap iklan tradisional namun sangat mencintai konten yang autentik dan menghibur.
- Jika produk Anda memiliki nilai cerita: Memiliki seseorang yang fokus pada narasi akan membantu nilai produk Anda tersampaikan lebih baik daripada sekadar diskon harga.
- Jika Anda ingin membangun komunitas: Hiburan adalah perekat komunitas yang paling efektif. Orang berkumpul karena mereka merasa senang dan terhubung secara emosional.
Strategi Memulai ‘Fashiontainment’ Tanpa Budget Raksasa
Anda tidak perlu merekrut petinggi dari perusahaan film besar untuk memulai. Anda bisa menerapkan prinsip-prinsip ini dengan langkah-langkah yang lebih sederhana namun tetap berdampak besar bagi brand lokal Anda:
- Fokus pada Storytelling: Ceritakan proses di balik layar pembuatan produk Anda. Tunjukkan kegagalan, tawa di kantor, dan nilai-nilai yang Anda pegang. Ini adalah hiburan yang jujur.
- Kolaborasi Kreatif: Bekerjasamalah dengan seniman, musisi lokal, atau kreator konten yang memiliki frekuensi yang sama dengan brand Anda. Biarkan mereka menginterpretasikan brand Anda melalui karya seni mereka.
- Eksperimen dengan Format Pendek: Gunakan Reels atau TikTok untuk membuat konten yang menghibur, misalnya transisi fashion yang kreatif atau tips mix and match dengan sentuhan humor.
- Personalisasi Host: Jika Anda melakukan live streaming, pastikan host Anda memiliki kepribadian yang menarik dan tidak hanya membaca spesifikasi produk seperti robot.
Menatap Masa Depan Fashion yang Menghibur
Pada akhirnya, pergerakan Gap dan munculnya jabatan Chief Entertainment Officer memberikan sinyal kuat bahwa masa depan industri fashion tidak lagi hanya tentang pakaian, tetapi tentang siapa yang paling pintar bercerita. Produk mungkin bisa ditiru, teknologi bisa diadopsi, namun karakter dan hiburan yang Anda sajikan akan menjadi pembeda yang tak tergantikan. Konsumen ingin merasa dihargai dan dihibur sebelum mereka memutuskan untuk mengeluarkan dompet mereka. Jadi, mulailah memikirkan brand Anda bukan hanya sebagai label baju, melainkan sebagai sebuah ‘rumah produksi’ yang siap memberikan pertunjukan terbaik bagi para pelanggannya. Dengan mengadopsi semangat fashiontainment ini, brand lokal Indonesia tidak hanya akan bertahan, tetapi juga mampu bersaing di panggung global yang semakin dinamis.

